ASAL USUL SUKU HALOBAN

 



Kampong Lamo, Haloban, Kec. Pulau Banyak Barat, Kab. Aceh Singkil, Prov. Aceh

Di Kabupaten Aceh Singkil, terdapat satu kelompok suku yang bernama Suku Haloban. Suku Haloban merupakan salah satu suku minoritas, dengan jumlah populasi sekitar 1800 jiwa. Orang-orang Haloban tinggal di Desa Haloban dan Desa Asantola, Pulau Tuangku, Kecamatan Pulau Banyak Barat. Mereka memiliki corak kebudayaan yang unik dan bahasa tersendiri, tetapi sayang bahasa tersebut kini terancam punah karena penuturnya semakin berkurang. Sebagaimana lazimnya suatu suku bangsa, suku Haloban juga memiliki tradisi lisan tentang asal-usul keberadaan mereka. Tradisi lisan ini berbentuk cerita rakyat yang disampaikan dari generasi ke generasi, bahkan hingga saat ini.

Dalam cerita rakyat ini, dikisahkan bahwa asal-usul masyarakat Haloban diawali dari pertemuan antara dua orang pelaut, yakni Lawoek asal Simeulue dan Lasengak asal Nias yang tiba ke pulau (Tuangku) dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya tak sengaja bertemu di suatu tempat, yang diperkirakan tidak jauh dari kampung lamo Haloban.

Dalam pertemuan itu, mereka terkejut karena tidak menyangka akan bertemu orang lain di pulau itu. Sebab menurut sepengetahuan mereka, tidak ada orang lain yang pernah menginjakkan kaki di pulau itu. Tak berselang lama, mereka pun terlibat perdebatan serius tentang siapa yang lebih dahulu sampai di pulau.

Di masa lalu, memang berlaku hukum laut yang mengatakan bahwa orang yang datang lebih dahulu berhak menguasai. Hukum laut ini berlaku umum dan memiliki penyebutan yang berbeda-beda di setiap samudera, tetapi saat ini orang mengenalnya dengan istilah latin Res Nullius. Perdebatan antara Lawoek dan Lasengak pun kemudian berubah menjadi perkelahian sengit di antara keduanya. Karena memiliki tingkat kesaktian yang sama, mereka berdua hampir saja kehilangan nyawa.

Di tengah perkelahian itu, tak sengaja lewat seorang laki-laki bernama Tutuwon. Tutuwon diperkirakan berasal dari tanah Mandailing dan memiliki marga Nasution. Dengan kebijaksanaannya, Tutuwon pun melerai keduanya. Ia juga mengundang mereka ke rumah untuk makan dan menyelesaikan semua persoalan dengan kepala dingin.

Tak berselang lama, sampailah Lawoek dan Lasengak di kediaman Tutuwon. Keduanya lalu disuguhi dengan hasil bumi yang beraneka ragam. Melihat sajian itu, mereka berdua terkejut karena ternyata Tutuwon sudah datang lebih dahulu, bahkan ia juga sudah mengerjakan lahan di pulau itu. Mereka berdua pun terpaku membisu. Mereka menyadari ketika seseorang sudah mengerjakan lahan, ia telah memiliki keterikatan emosional dengan tanah tersebut. Menurut hukum yang berlaku saat itu, Tutuwon memiliki hak untuk menguasai pulau tersebut.

Melihat kenyataan ini, keduanya pun sepakat untuk berdamai dan menjadikan Tutuwon sebagai penguasa di pulau itu. Akan tetapi karena tidak memiliki garis keturunan bangsawan, Tutuwon pun menolak dan menyarankan untuk mencari orang lain yang mungkin saja tinggal di wilayah tersebut. Siapa tahu, orang yang mereka temukan nanti berasal dari garis keturunan bangsawan.

Penolakan Tutuwon bukan tanpa dasar, sebab syarat berdirinya sebuah kerajaan yang berdaulat harus mendapatkan pengakuan terlebih dahulu dari kerajaan yang lebih besar. Pengakuan kedaulatan ini menjadi sangat penting, terutama untuk memberikan perlindungan terhadap kerajaan yang baru dan rakyatnya dari pihak-pihak lain yang tidak mereka kehendaki. Tidak ada kerajaan besar yang mau mengakui keberadaan sebuah kerajaan baru, jika kerajaan tersebut dipimpin oleh orang yang tidak memiliki garis keturunan bangsawan.

Ditemani Tutuwon, Lawoek dan Lasengak pun kemudian berkeliling di sekitar pulau. Sesampainya di Pulau Aisakhu, mereka melihat asap. Mereka pun mendatangi pulau itu dan bertemu dengan seseorang bernama Malikul Braya. Dalam pertemuan itu, mereka pun menyampaikan maksud dan tujuannya. Setelah berbincang cukup lama, mereka pun mengetahui bahwa Malikul Braya memang sudah lama menetap di pulau Aisakhu. Tetapi sayang, ternyata ia juga tidak memiliki garis keturunan bangsawan. Malikul Braya menolak untuk diangkat sebagai penguasa, namun ia bersedia untuk menemani ketiga orang tadi untuk berkeliling mencari orang lain yang mungkin saja tinggal di sekitar pulau itu.

Tidak lama berkeliling, mereka melihat asap di daerah Air Dingin. Setelah didatangi, mereka lalu bertemu dengan seorang laki-laki bernama Hutabarat. Tanpa banyak basa-basi, mereka pun menyampaikan maksud dan tujuan mereka kepada Hutabarat. Mendengar cerita mereka, Hutabarat lantas mengungkapkan bahwa dirinya memang sudah lama menetap di situ, tetapi ia juga tidak memiliki garis keturunan bangsawan. Ia pun menolak untuk menjadi penguasa di pulau itu.

Karena kelimanya tidak memiliki garis keturunan bangsawan, mereka pun sepakat untuk mencari orang yang lebih layak. Mereka pun sepakat bahwa tugas itu sebaiknya diemban oleh Malikul Braya. Berbekal amanah, Malikul Braya kemudian berangkat ke Pagaruyung untuk menjemput seorang bangsawan yang akan dijadikan sebagai raja di pulau itu. Di hadapan raja, Malikul Braya menceritakan semuanya dari awal. Raja yang bijaksana itu pun tersenyum mendengar hal itu.

Keesokan harinya, raja kemudian mengeluarkan titah. Dalam titah itu, Raja Pagaruyung memberi daulat kepada Sutan Malingkar Alam untuk memerintah di wilayah baru, sebagai representasi dari kerajaan Pagaruyung di pulau yang dimaksud. Berangkatlah Sutan Malingkar Alam bersama dengan Malikul Braya, ditemani oleh beberapa orang untuk membantunya.

Setibanya Sutan Malingkar Alam, mereka kemudian mendirikan sebuah kerajaan. Kelima orang yang pertama tiba di pulau itu pun diangkat menjadi pejabat di kerajaan, dan diberi wewenang untuk memerintah di wilayahnya masing-masing. Tutuwon (Nasution) diberi gelar sebagai Datuk Besar, sementara Lawoek diberi gelar Datuk Maharaja. Lasengak diberi gelar Datuk Muda, Hutabarat kemudian diberi gelar Datuk Pamuncak. Keempatnya ini dikenal dengan nama Datuk Barampek. Sementara itu, Malikul Braya mendapat gelar Imam Garang atau imam besar.


Dikisahkan Oleh: Dharma Kelana Putra dan Herlinsyah Putra

(Pernah dimuat di buletin Haba Tahun 2021 Hal 43-44 dalam versi Bahasa Haloban Edisi April-Juni 2021, diterbitkan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh) 

Post a Comment

Previous Post Next Post