Tertompang Harap Benang Sehelai Bag. xx




Karya: Harmon Tanjung. 


 "Pik, buatkanlah Ayahmu ini Kopi satu". Pak Ji duduk seraya terus mengusap matanya. Ia tak Ingin anak gadis kesayangannya tahu Ia dalam lara. 


"Biasa Yah?", terdengar suara di balik dapur. Upik bukanlah namanya, itu panggilan cepat dari Ayahnya juga sebagai panggilan kesayangan. Ia bahkan lebih suka dipanggil Upik dari pada namanya sendiri, Chintya Salsabila Piliang, deretan huruf yang sangat tak disukai Ayahnya kecuali potongan kata terakhir saja, Piliang. Penanda bahwa mereka adalah turunan MinangKabau yang telah lama mendiami tanah Serambi, Pak Ji sendiri pun tak lagi hafal tambo mereka. 


Pak Ji memastikan tak lagi ada iras merah di matanya pada cermin retak yang tergantung tali plastik samping Ia duduk ketika terdengar langkah kecil mendekat. 


"Mana Kopi Ayah?" Ucap Pak Ji lembut ketika pemilik langkah tadi mendekatinya. 


"Belum Yah, kan tadi ditanya kopi biasa, Ayah belum jawab" Upik mengamati wajah Ayahnya. Pahatan hidup semua tergambar di sana, membuat Ayahnya semakin berwibawa di usia senja. Wajah yang menjadi motivasi Upik meraih nilai seratus Matematika. 


"Oh Iya, lupa Ayah apa beda biasa dengan tak biasa? " Pak Ji mencubit lembut pipi gadis kecilnya yang sekarang telah duduk di bangku SMA. Baginya Upik tetaplah gadis Kecil yang lucu, semangat hidupnya.


Upik bergelayut manja di lengan ringkih Ayahnya. "Ayah ini, seperti kali ini saja minum Kopi buatan Upik, cepatlah Yah, nanti Upik pergi ke rumah Nesa, ada tugas sekolah kami. Kopi pahit lagi Yah"? 


" Hahaha, Kali ini jangan Kau suguhkan Ayahmu kopi pahit, Pik". Wak Ji tertawa sambil menahan perutnya yang semakin mengecil. "Cukup hidup Ayah yang pahit, Kopi jangan". Ia membelakangi Upik, Ia tak mau Upik melihat tawa campur laranya menyatu. 


Sedari pagi hingga sore ini, seingat Pak Ji inilah dia baru tertawa. Si Upik memang bisa dengan Ayahnya. 

Kembali Ia menatap cermin retak tujuh di hadapannya. Sungguh Ia tak lagi muda. 


"Ini Yah, ini yang paling manis buatan Upik". Upik meletakkan gelas plastik kecil dengan sangat pelan. 


Pak Ji langsung meneguk setelah meniup beberapa kali. " Memang lah Pik, Kopi manis buatan anak Ayah yang paling manis, kayaknya tanpa gula ya? ". Kembali Pak Ji melanjutkan tegukkan kedua. 


" Ayah ini, kalau tak pakai gula, mana lah manis". 


"Sebenarnya kalau Upik yang buat tanpa gulapun manis bagi Ayah". Tanpa terasa kopi tinggal setengah. 


"Hehe, Ayah ni.... Yah Upik siap-siap dulu ya, ini hampir maghrib, Upik nanti ba'da maghrib  ke rumah Nesa".


" Oh iya Sayang, belajar yang rajin. Nanti setelah jadi orang jangan Kau malah jauh dari kami". Kalimat Pak Ji terhenti ketika matanya menatap foto usang di dinding yang tak jelas lagi catnya. Foto berukuran paling besar yang ada di rumah itu. Seketika tak lagi terasa manis kopi di lidahnya. Ia sungguh merindukan Putranya. Bulatan kecil panas menumpuk di sudut netranya. Upik tak boleh tahu. 


.... 


(Tertompang Harap Benang Sehelai)

Post a Comment

Previous Post Next Post